Selasa, 14 Maret 2017

KEUTAMAAN TIDUR DALAM KEADAAN SUCI (Habib Idrus Bin Muhammad Alaydrus)

KEUTAMAAN TIDUR DALAM KEADAAN SUCI
Sebelum menutup lembar kegiatan dengan istirahat di malam hari, hendaklah kita membasuh muka dan anggota badan lainnya dengan air wudhu. Sebab bila kita tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bermalam bersama kita dan mendoakan diri kita dengan ampunan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، لاَ يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَلاَنًا، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا.
Barang siapa yang bermalam dalam keadaan suci, maka ada satu malaikat ikut bermalam di syi’ar-nya. Tidaklah ia terbangun sesaat pada malam hari melaikan malaikat itu berkata: “Ya Allah, berilah ampunan bagi hamba-Mu Fulan, sebab ia bermalam dalam keadaan suci.” (Hadis hasan riwayat Ibnul Mubarak. Lihat: ash-Shahihah No 2539)
Pada riwayat lain beliau bersabda:

طَهِّرُوْا هَذِهِ اْلأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللَّهُ، فَإِنَّهُ لَيْسَ عَبْدٌ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ مَلَكٌ فِي شِعَارِهِ، لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا.

Sucikanlah tubuh kalian -semoga Allah menyucikan kalian-, sebab tidaklah seorang hamba bermalam dalam keadaan suci, melainkan akan ada satu malaikat ikut bermalam di syiar-nya, tidaklah ia berbalik sesaat pada malam hari melainkan malaikat itu berkata: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu Fulan, sebab ia bermalam dalam keadaan suci. (Hadis hasan. Lihat Shahih al-Jami’ No 3936)
Arti “ syiar “ pada hadis di atas adalah pakaian, kain atau semisalnya yang menempel pada badan seseorang.
☆ SEKIRANYA MENINGGAL PADA MALAM ITU
Bila seseorang bersuci, kemudian membaca doa di bawah ini, kemudian ternyata ia meninggal dunia pada malam harinya, maka ada keutamaan khusus baginya.
Dari al-Bara' bin 'Azib a ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku: "Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian rebahkan (badanmu) di atas bahu sebelah kanan kemudian ucapkanlah:"

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ.

[Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, ya Allah aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus].” Apabila engkau meninggal dunia pada malam itu, niscaya engkau dalam keadaan fitrah (di atas sunnah). Dan jadikanlah doa tersebut sebagai ucapan terakhirmu. (HR. al-Bukhari No 247)
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menerapkan hadis ini setiap hari. Allahumma aamiin.

Kamis, 16 Februari 2017

BAHAYA LISAN (Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus)

RASULULLAH SAW bersabda :
"Barang siapa yang diam maka ia akan selamat" (HR. At Tirmidzi)

Lisan diciptakan oleh ALLAH SWT untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan membimbing manusia untuk menempuh jalan yang benar. Maka, pergunakanlah lisanmu dalam urusan agama dan dunia. Apabila engkau pergunakan lisan tidak sejalan dengan tujuan penciptaannya, maka engkau telah mengingkari nikmat ALLAH SWT dan mendurhakai perintah-Nya.
Lisanmu adalah anggota badan
yang paling utama, ia dapat menjadi sebab seseorang dengan masuk syurga (bagi yang mampu menjaganya) namun ia juga yang paling banyak menjerumuskan manusia dalam neraka, melalui perbuatan dusta, menuduh orang lain tanpa bukti, memaki orang lain, memfitnah, menggunjing, dan seterusnya.
maka jaga lisanmu supaya ia tidak menjerumuskanmu ke jurang neraka.
Luqman al-Hakim berkata
kepada putranya :
“Andaikata bicara itu adalah perak, maka diam adalah emas.”
ketahuilah.. apapun yang keluar dari lisan kita kelak akan ada hisab dan pertanggung jawabannya. maka hindarilah berbicara hal-hal yang tidak bermanfaat, karena itu akan membuat kita menyianyiakan waktu kita dari hal hal yang bermanfaat. apalagi jika pembicaraan itu mengandung keburukan.
berikut ini adalah beberapa perkara dari bahayanya lisan yang paling sering dilakukan manusia. maka jagalah lisan kita darinya :
1. Berkata bohong
RASULULLAH SAW bersabda :
"sesungguhnya berdusta adalah salah satu pintu dari pintu-pintu kemunafikan"
2. Ingkar janji
Janji adalah hutang yang harus dibayar. Perbuatan ingkar janji juga merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu kemunafikan, dan ALLAH SWT sangat melarangnya.
ALLAH SWT Berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 1
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (janji) itu"
3. Ghibah (menggunjing orang lain)
Orang yang ghibah maka sama saja ia memakan daging saudaranya yang telah mati. adapun batasan ghibah adalah segala bentuk membicarakan orang lain yang mana apabila pembicaraan tersebut terdengar oleh orang yang dibicarakan akan membuatnya marah atau sakit hati. dan orang yang mendengarkannya maka baginya adalah dosa yang sama dengan orang yang berbicara.
RASULULLAH SAW bersabda :
"Berhati-hatilah kalian dari perbuatan ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari zina. seorang pelaku zina yang bertaubat maka taubatnya diterima oleh ALLAH, sedangkan seorang pelaku ghibah yang bertaubat dosanya tidak akan diampuni oleh ALLAH hingga ia dimaafkan oleh orang yang digunjingnya"
4. Berbantah-bantahan dan saling
mendebat dengan tujuan mencela pendapat orang lain, dan mendustakannya serta menganggap remeh orang yang mengatakannya
5. Memuji diri sendiri
karena memuji diri sendiri dapat menimbulkan sifat sombong dan riya'
6. Mencaci maki orang lain
RASULULLAH SAW tidak pernah berkata buruk apa lagi mencaci maki orang lain. walau itu orang kafir sekalipun. Dalam suatu riwayat dijelaskan :

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَاحِشًا وَلاَ لَعَّاناً ولا سباباً

“Nabi saw. bukanlah orang yang biasa mengucapkan kata-kata jorok, bukan pengutuk dan bukan pula tukang cacimaki,” [HR. Muslim dari Anas].
dalam riwayat lain juga dijelaskan. suatu ketika Sahabat Abu Hurairah pernah meminta kepada Nabi agar mendoakan kecelakaan, keburukan atau kesengsaraan bagi orang-orang musyrik. Namun RASULULLAH SAW mengatakan : 

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Aku tidak diutus Tuhan untuk mengutuk orang. Aku diutus hanya untuk menyebarkan kasih sayang”. (HR. Muslim).
Belakangan ini banyak sekali masyarakat yang dengan mudah mencaci maki orang lain, dan lebih parahnya yang dicaci maki tersebut adalah para alim ulama, habaib, kyai. jika kepada orang kafir saja RASULULLAH melarang untuk mencaci maki, apalagi mencaci alim ulama kyai, lebih-lebih Habaib yang beliau merupakan Dzuriyatun Nabi. 
 Banyak orang yang salah mengartikan demokrasi sebagai bentuk kebebasan dalam berpikir dan berpendapat, sehingga banyak masyarakat yang dengan bebas bicara, menulis dan bertindak semaunya. Apalagi dengan banyaknya media-media sosial yang membuat hampir tak ada sekat dan jarak di muka bumi ini. Semua orang dapat mengungkapkan apa saja di internet, khususnya media sosial. Hal ini bagaikan pisau bermata dua. jika penggunanya mampu menggunakan dengan benar sesuai syariat maka akan mengandung kemanfaatan. namun jika salah maka baginya segala macam bentuk kemudhorotan. dari hal yang berbau pornografi, fitnah, hasutan dan hujatan, semua tak bisa lagi dibendung. orang tidak lagi bisa membedakan mana roti mana kotoran, mana kebenaran dan mana kebathilan, semua dianggap sama. Sehingga banyak orang yang terperdaya oleh nya. tanpa sadar dia telah menyakiti hati orang lain dengan apa yang ditulisnya, dengan apa yang dibicarakannya. 
Di tengah kebenaran yang serba kabur ini, kita perlu kembali berpegang kepada akhlak sang Nabi, yang sebagian tercermin pada akhlak para ulama, yang benar-benar ulama, meski ia jarang tampil di media. Kita perlu mengingat kembali, dengan tujuan apa RASULULLAH diutus ke dunia: menyempurnakan akhlak manusia (liutammima makaarimal akhlak). Jika kita belum bisa jadi orang alim, minimal kita cinta dengan orang alim. Jika kita belum bisa menjadi orang yang shaleh, minimal kita cinta dengan orang shaleh. Jika kita belum mampu menjadi orang berakhlak, minimal kita cinta dengan orang yang berakhlak. Bukan justru menghujatnya, menghinanya, mencacinya, dengan kata-kata kasar yang melukai.
Kita boleh tak sepakat dengan siapapun, kepada tokoh, ulama, Habaib, Namun bukan berarti kita boleh untuk tidak menghormatinya, apalagi mencelanya. Berpendapatlah dengan santun agar tidak dosa dan melukai hati.
jika RASULULLAH SAW saja, manusia yang paling mulia dan tinggi derajatnya saja tidak pernah mau mencaci maki orang lain, maka pantaskah kita yang penuh dosa ini saling mencela dan mencaci? apalagi dicela dan dicaci maki itu adalah seorang alim ulama, kyai, Habaib, yang mana beliau semua adalah pewaris para Nabi yang akan menuntun kita menuju jalan yang ALLAH Ridhoi.

7. Namimah (mengadu domba)
RASULULLAH SAW bersabda :
"tidak akan masuk surga para pengadu domba" (HR. Bukhori)

Dalam riwayat lain RASULULLAH SAW juga bersabda:
“Yang amat dicintai ALLAH SWT ialah yang terbaik akhlaknya, yang dermawan lagi gemar menjamu orang, yang dapat menyesuaikan diri lagi dapat diikuti penyesuaian dirinya itu, sedang yang amat dibenci di sisi ALLAH ialah orang-orang yang suka berjalan dengan berbuat adu domba, yang memecah belah antara saudara-saudara, lagi pula mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari kesalahan-kesalahan”. (H.R. Ahmad)
Batasan Namimah adalah segala sesuatu perbuatan yang membuat 2 pihak yang sebelumnya baik menjadi saling bermusuhan dan saling membenci.

8. Bergurau, mengejek, dan
menghina orang lain.
yang dilarang disini adalah senda gurau yang berlebihan, karena ia dapat menimbulkan banyak tertawa, dan banyak tertawa dapat mematikan hati. apa lagi jika didalamnya terdapat ejekan atau hinaan kepada orang lain.
ALLAH SWT berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 11 :
"Wahai orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lainnya"

Kedelapan penyakit lisan di atas
dapat disembuhkan dengan cara
bersikap diam dan tidak
berbicara apabila tidak ada
keperluan. Semoga ALLAH memberikan kemudahan pada kita untuk menjaga lisan kita dari hal-hal yang dibenci dan tidak diRidhoi oleh ALLAH SWT.

Selasa, 14 Februari 2017

Do'akan saudaramu saat dia tak mengetahuinya (Habib Idrus Bin Muhammad Alaydrus)





RASULULLAH SAW bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

Do'a seorang muslim kepada saudaranya,yang tidak diketahui oleh saudaranya adalah dikabulkan. pada kepala orang yang berdo'a tersebut ada malaikat yang di utus oleh ALLAH, setiap dia berdo'a kebaikan untuk saudaranya tersebut, Berkata sang malaikat : "Amiin...dan untuk-mu juga seperti doa-mu"



Islam mengajarkan umatnya agar dapat mengikat hubungan antara saudaranya sesama muslim dalam berbagai keadaan dan di setiap saat. dan salah satunya adalah dengan do'a. Do’a seorang muslim kepada saudaranya karena Allah di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang sangat utama dan do’a yang terijabah (terkabul), dan Orang yang mendo’akan saudaranya tersebut akan mendapatkan do'a yang sama dari malaikat2 Allah, sama seperti apa yang dia do'akan untuk saudaranya. karena saat itu ada malaikat yang di utus oleh ALLAH untuk mengaminkan do’a orang tersebut kepada suadaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya. maka do'akanlah saudara sesama muslim mu tanpa engkau harus mengumbar do'a tersebut kepada orang lain. 
Semoga ALLAH SWT menjadikan kita semua ke dalam golongan mereka yanh mendapat karunia dan keutamaan dari-Nya. Aamiin...

Selasa, 17 Januari 2017

RIYA' Sang Penghancur Ibadah (Habib Idrus Bin Muhammad Alaydrus)

Syarat paling utama suatu amalan diterima di sisi Allah adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia belaka. Syaitan tidak henti-hentinya memalingkan manusia, menjauhkan mereka dari keikhlasan. Salah satunya adala melalui pintu riya’ yang banyak tidak disadari setiap hamba. Riya masuk kedalam hati manusia dengan sangat halus tanpa disadari. ia bagaikan Semut Hitam yang berjalan diatas batu hitam ditengah kegelapan malam (tidak kelihatan)


lalu apa Riya' itu??? dan apa bahaya dari sifat riya'???
Riya’ adalah seseorang beramal shalih dengan maksud untuk dilihat/dipuji oleh orang lain.

sifat riya' sangatlah berbahaya. salah satunya dia adalah sebagai penghancur ibadah.
Jika seseorang beribadah dengan maksud pamer di hadapan manusia, maka ibadah tersebut batal dan tidak sah. Ada pula jika riya’ yang muncul di tengah-tengah ibadah maka ada dua keadaan. Jika amalan ibadah tersebut berhubungan antara awal dan akhirnya, misalnya ibadah sholat, maka riya’ akan membatalkan ibadah tersebut jika tidak berusaha dihilangkan dan tetap ada dalam ibadah tersebut. Jenis yang kedua adalah amalan yang tidak berhubungan antara bagian awal dan akhir, shodaqoh misalnya. Apabila seseorang bershodaqoh seratus ribu, lima puluh ribu dari yang dia shodaqohkan tercampuri riya’, maka shodaqoh yang tercampuri riya’ tersebut batal, sedangkan yang lain tidak.

sifat riya' mampu hinggap ke hati siapa saja. maka berhati-hatilah. Beribadahlah dengan ikhlas karena ALLAH SWT. Ikhlas memang sangat berat. Fitnah dunia membuat hati ini susah untuk ikhlas. Namun, berat buka berarti tidak bisa bukan?? Cobalah kita renungkan setiap amalan kita, sudahkah terbebas dari maksud duniawi? sudahkah semuanya murni ikhlas karena Allah Ta’ala? Jangan sampai ibadah yang kita lakukan siang dan malam menjadi sia-sia tanpa pahala. Sungguh, ikhlas memang berat. Urusan niat dalam hati bakanlah hal yang mudah. Tidaklah salah jika Sufyan ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “ Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik”
Semoga ALLAH membimbing kita menjadi pribadi-pribadi yang ikhlas. 
Wallahua'lam...


Minggu, 15 Januari 2017

Rahasia di Balik ISTIQOMAH (Habib Idrus Bin Muhammad Alaydrus)

Istiqomah memiliki arti konsisten dalam melakukan kebaikan. Teguh dalam satu pendirian dan tidak akan tergoyahkan oleh berbagai macam rintangan dalam mendapatkan ridho Allah SWT.
Apa keistimewaan dari Istiqomah??
Allah SWT Berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushilat: 30).
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput. Janganlah takut pada akhirat yang akan di hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang di tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya. Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari berbagai macam kejelekan.
Subhanallah betapa indah istiqomah ini. Istiqomah harus dilakukan dengan keikhlasan kepada Allah semata, sebab Allah tidak akan menerima keistiqomahan seseorang dalam beribadah jika dilakukan tanpa ada keikhlasan dalam melaksanakannya. Oleh karena itu, hendaklah seorang mukmin senantiasa istiqomah berada di atas jalan yang lurus dengan mengikhlaskan semuanya kepada Allah dengan memohon pahala dan keridhoan-Nya.
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa istiqomah dalam suatu ibadah?? berikut ini beberapa cara untuk melatih diri kita agar bisa istiqomah.
(1) Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar.
Allah SWT berfirman,
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)
(2) Mengkaji Al Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya. Allah menceritakan bahwa Al Qur’an dapat meneguhkan hati orang-orang beriman dan Al Qur’an adalah petunjuk kepada jalan yang lurus.
(3) Iltizam (konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah. Maksudnya di sini adalah seseorang dituntunkan untuk konsekuen dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena konsekuen dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang sesekali saja dilakukan.
(4) Membaca kisah-kisah orang sholih sehingga bisa dijadikan teladan dalam istiqomah.
(5) Memperbanyak do’a pada Allah agar diberi keistiqomahan. Di antara sifat orang beriman adalah selalu memohon dan berdo’a kepada Allah agar diberi keteguhan di atas kebenaran. Dalam Al Qur’an Allah SWT memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo’a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian.
(6) Bergaul dengan orang-orang sholih. Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (Qs. At Taubah: 119).
Jika lingkungan atau teman kita adalah baik, maka ketika kita keliru, ada yang selalu menasehati dan menyemangati kepada kebaikan.
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu”. Aamiin...

Sabtu, 14 Januari 2017

Waktu Adalah Kehidupan (Habib Idrus Bin Muhammad Alaydrus)


Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih.
Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr :1-3].
Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam masa terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allâh Ta’ala, tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya.
Sebuah pepatah arab mengatakan:

الوقت هو الحاية
(waktu adalah kehidupan)
Sekali lagi, yaitu 'waktu adalah kehidupan.' Yang dimaksud dengan kehidupan adalah, waktu yang dilalui manusia saat ia dilahirkan hingga ia wafat. Waktu hidup manusia di dunia adalah umurnya, dan umur manusia merupakan rahasia Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kualitas umur seseorang sangat menentukan posisinya di alam kehidupan berikutnya. Jika dari waktunya diperuntukkan hanya karena Allah (lillah) maka kematiannya adalah baik baginya. Namun sebaliknya jika waktu dan umurnya dihabiskan untuk menuruti kesenangan nafsu dan dan ambisi syahwat hewaninya maka kematiannya merupakan petaka besar baginya.

Al-Hasan al-Bashri berkata,
"Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah kumpulan hari-hari, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu."
Ibnu Mas`ud Radhiyallahu 'Anhu (salah seorang sahabat besar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam) berkata:
"Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka berkuranglah masa ajalku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku."
Berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah,
"Sesungguhnya malam dan siang terus bekerja dalam dirimu, maka bekarjalah di dalam siang dan malammu."
Bekerjalah (Beribadahlah) pada siang dan malammu, janganlah menunda pekerjaan siang untuk dikerjakan di malam harinya, dan janganlah menunda pekerjaan malam ke siang harinya. Janganlah pekerjaan hari ini di tunda hingga esok harinya dan
janganlah pekerjaan esok karena malas diakhirkan hingga lusanya. Jangan katakan, "Nanti akan kuamalkan" atau "sebentar lagi akan kukerjakan." Karena setiap manusia akan ditanya pada hari kiamat, mengenai umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang ilmunya sudahkah ia amalkan, dan tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam:
"Tidak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari Kimat hingga (ia) ditanya ttentang umurnya, untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya, sudahkan ia amalkan ? tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan ? tentang jasadnya, untuk apa ia gunakan ? "(HR. At-Tirmidzi)
Maka masihkah kau ingin menyia-nyiakan waktumu??? Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat malas dan mengulur-ngulur waktu

Jumat, 13 Januari 2017

Bahaya Menyakiti Hati Guru (Habib Idrus Bin Muhammad Alaydrus)


فمن تأذى منه أستاذه يحرم بركة العلم ولا ينتفع بالعلم إلا قليلا.

إن الـمـعلم والطـبيب كـلاهـما! لا ينصحـان إذا هـما لم يكــرما

فاصبر لدائك إن جفوت طبيبه! واقنع بجهلك إن جفوت معلما
Barang siapa melukai hati sang gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemanfaatannya
.
 
Sungguh, dokter dan guru Tak akan memberi nasehat, bila tak di hormat
 
Terimalah penyakitmu, bila kau acuh doktermu dan terimalah bodohmu, bila kau tantang sang guru

 
terimalah penyakitmu, bila kau acuh doktermu dan terimalah bodohmu, bila kau tantang sang guru